Kamis, 10 Juli 2014

Bukan apa-apa


Bukan apa-apa


Tertawa lebar di beberapa kesempatan, diam dan agak murung di lain kesempatan. Membuat, semuanya jelas begitu terlihat paradoks. Bergantung dengan siapa ia berbicara, hanya dengan siapa ia berbicara tidak mempersoalkan di mana, situasi seperti apa, bagaimana? Hanya dengan siapa, makhluk ini akan banyak berbicara, menceritakan hal – hal sepele yang terkadang mungkin penting tidak penting untuk diceritakan. Lagi pula tidak ada ukuran hal itu menjadi penting atau tidak penting untuk di bicarakan. Merasa ia selalu mempuyai kepentingan untuk bercerita dan memiliki kesempatan untuk mendengarkan cerita. Bercerita dan mendengarkan cerita dengan orang yang tepat, hal itu selalu nyenengin bahkan nagih. Bukankah itu kebahagiaan?
Menurutku ya, bisa bercerita dengan orang yang tepat, mendengarkan cerita-ceritanya itu adalah sebuah bentuk kebahagiaan. Entah bahagia dalam bentuk parsial atau bahagia yang utuh. Toh, orang berbeda-beda untuk mendefinisikan sesuatu, sebuah kata, “bahagia” atau apapun. Bergantung dari siapa yang berbicara, bagaimana ia berspekulasi, dan dalam kondisi seperti apa. Lagi-lagi semuanya relatif, teori itu relatif. Hinggga mengambil dari pemikiran orang umumnya bahwa bahagia itu nyenengin. Lalu bahagia yang utuh itu seperti apa? Entahlah, namun aku pernah menemukan kalimat ini, “Manusia yang telah menemukan tujuan dalam hidupnya dia tidak akan pernah kecewa dengan apa yang terjadi, apalagi hanya karena perkara dunia”. Rasa-rasanya aku belum sampai pada tingkatan itu.
Bercerita, mendengarkan. Semuanya bukan tanpa sebab akibat atau tanpa adanya kontra prestasi yang jelas. Tentu ada, yaitu saling membutuhkan satu sama lain. Karena individu yang memilih bersama hanya karena kesepiaan, itu egois sekali. Lebih baik sendiri dangan segala kenyamanan dari pada memilih bersama tapi karena hanya takut kesepian. Ironis, sungguh. Aku tidak sedang ng’judge’ siapapun. Aku hanya berpendapat.
**
Terkadang menjadi perasa dan begitu merasa membuat semuanya malah menjadi hiperbola, sulit memaafkan, hingga akhirnya kehilangan. Meminimalkan dan memaksimalkan sesuatunya. Hingga merasa tak perlu lagi basa-basi. Menganggap, tidak pernah terjadi apa-apa, melupakan yang apa-apa. Meskipun yang apa-apa tidak pernah terlupakan, meski sering dilupakan. Dan meskipun yang “apa-apa” telah membuat perubahan. Tetapi apa-apa, tetaplah menjadi apa-apa. Ah rumit sekali, ternyata ini tidak sesederhana apa yang aku pikirkan. Tidak sesederhana mendefinisikan sebuah kata dan rasa. Perasaan selalu membingungkan. Meskipun telah menemukan jawaban, seringkali menyangkal. Mencari alasan yang lain, mencari alasan basa-basi. Terlalu hipokrit, atau memang perasaan membuat seseorang ke arah sana. Perasaan ingin selalu dimengerti walaupun tanpa adanya penjelasan. Pengungkapan secara gamblang malah terkadang merusak makna, yang seharusnya lebih baik tersirat. Tetapi beberapa hal mengenainya perlu diungkapkan, perlu dibicarakan dan perlu adanya kejelasan.




4.46 a.m.
Friday 28-Mei/2014




Tidak ada komentar:

Posting Komentar