Bukan
apa-apa
Tertawa
lebar di beberapa kesempatan, diam dan agak murung di lain
kesempatan. Membuat, semuanya jelas begitu terlihat paradoks.
Bergantung dengan siapa ia berbicara, hanya dengan siapa ia
berbicara tidak mempersoalkan di mana, situasi seperti apa,
bagaimana? Hanya dengan siapa, makhluk ini akan banyak berbicara,
menceritakan hal – hal sepele yang terkadang mungkin penting tidak
penting untuk diceritakan. Lagi pula tidak ada ukuran hal itu menjadi
penting atau tidak penting untuk di bicarakan. Merasa ia selalu
mempuyai kepentingan untuk bercerita dan memiliki kesempatan untuk
mendengarkan cerita. Bercerita dan mendengarkan cerita dengan orang
yang tepat, hal itu selalu nyenengin bahkan nagih. Bukankah itu
kebahagiaan?
Menurutku
ya, bisa bercerita dengan orang yang tepat, mendengarkan
cerita-ceritanya itu adalah sebuah bentuk kebahagiaan. Entah bahagia
dalam bentuk parsial atau bahagia yang utuh. Toh, orang berbeda-beda
untuk mendefinisikan sesuatu, sebuah kata, “bahagia” atau apapun.
Bergantung dari siapa yang berbicara, bagaimana ia berspekulasi, dan
dalam kondisi seperti apa. Lagi-lagi semuanya relatif, teori itu
relatif. Hinggga mengambil dari pemikiran orang umumnya bahwa bahagia
itu nyenengin. Lalu bahagia yang utuh itu seperti apa? Entahlah,
namun aku pernah menemukan kalimat ini, “Manusia yang telah
menemukan tujuan dalam hidupnya dia tidak akan pernah kecewa dengan
apa yang terjadi, apalagi hanya karena perkara dunia”. Rasa-rasanya
aku belum sampai pada tingkatan itu.
Bercerita,
mendengarkan. Semuanya bukan tanpa sebab akibat atau tanpa adanya
kontra prestasi yang jelas. Tentu ada, yaitu saling membutuhkan satu
sama lain. Karena individu yang memilih bersama hanya karena
kesepiaan, itu egois sekali. Lebih baik sendiri dangan segala
kenyamanan dari pada memilih bersama tapi karena hanya takut
kesepian. Ironis, sungguh. Aku tidak sedang ng’judge’ siapapun.
Aku hanya berpendapat.
**
Terkadang menjadi perasa dan begitu merasa membuat semuanya malah
menjadi hiperbola, sulit memaafkan, hingga akhirnya kehilangan.
Meminimalkan dan memaksimalkan sesuatunya. Hingga merasa tak perlu
lagi basa-basi. Menganggap, tidak pernah terjadi apa-apa, melupakan
yang apa-apa. Meskipun yang apa-apa tidak pernah terlupakan, meski
sering dilupakan. Dan meskipun yang “apa-apa” telah membuat
perubahan. Tetapi apa-apa, tetaplah menjadi apa-apa. Ah rumit sekali,
ternyata ini tidak sesederhana apa yang aku pikirkan. Tidak
sesederhana mendefinisikan sebuah kata dan rasa. Perasaan selalu
membingungkan. Meskipun telah menemukan jawaban, seringkali
menyangkal. Mencari alasan yang lain, mencari alasan basa-basi.
Terlalu hipokrit, atau memang perasaan membuat seseorang ke arah
sana. Perasaan ingin selalu dimengerti walaupun tanpa adanya
penjelasan. Pengungkapan secara gamblang malah terkadang merusak
makna, yang seharusnya lebih baik tersirat. Tetapi beberapa hal
mengenainya perlu diungkapkan, perlu dibicarakan dan perlu adanya
kejelasan.
4.46
a.m.
Friday
28-Mei/2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar